Paper Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan, April 2019
JENIS-JENIS MANFAAT SUMBER DAYA
HUTAN
Dosen Pembimbing
:
Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si
Oleh :
Rojula
171201053
HUT 4 D
PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya. Adapun
judul paper ini “Jenis-jenis Ekonomi Sumber Daya Hutan”. Paper ini merupakan
salah satu tugas mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan Program Studi Kehutanan,
Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada dosen pembimbing Bapak
Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si yang telah memberikan pelajaran dan bimbingannya. Dalam penulisan paper ini penulis menyadari bahwa paper ini belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si yang telah memberikan pelajaran dan bimbingannya. Dalam penulisan paper ini penulis menyadari bahwa paper ini belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang
telah membantu dalam penyelesaian paper ini. Semoga paper ini dapat menjadi
sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.
Medan, April 2019
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR
ISI....................................................................................................... ii
BAB
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Balakang...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 1
1.3 Tujuan................................................................................................... 1
BAB II. PEMBAHASAN
.... 2.1
Jenis-jenis sumber daya alam................................................................. 3
2.2 Ciri-ciri sumber daya hutan.................................................................... 5
2.3
Identifikasi pohon yang memiliki potensi ESDH.................................. 6
BAB III. PENUTUP
3.1
Kesimpulan........................................................................................... 10
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Hutan adalah suatu lapangan bertumbuhan
pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati
beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan pemerintah sebagai hutan. Jika
pengertian hutan ditinjau dari sudut pandang
sumberdaya ekonomi terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi,
yaitu: lahan, vegetasi bersama semua komponen hayatinya serta lingkungan itu
sendiri sebagai sumberdaya ekonomi yang pada akhir-akhir ini tidak dapat
diabaikan. Sedangkan kehutanan diartikan sebagai segala pengurusan yang
berkaitan dengan hutan, mengandung sumberdaya ekonomi yang beragam dan sangat
luas pula dari kegiatan-kegiatan yang bersifat biologis seperti rangkain proses
silvikultur sampai dengan berbagai kegiatan administrasi pengurusan hutan (Wirahadikusumah.2003).
Sumberdaya hutan
(SDH) Indonesia menghasilkan berbagai manfaat yang dapat dirasakan pada
tingkatan lokal, nasional, maupun global. Manfaat tersebut terdiri atas manfaat
nyata yang terukur (tangible) berupa hasil hutan kayu, hasil hutan non
kayu seperti rotan, bambu, damar dan lain-lain, serta manfaat tidak terukur (intangible)
berupa manfaat perlindungan lingkungan, keragaman genetik dan lain-lain. Saat
ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai secara rendah
sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi SDH yang berlebih. Hal tersebut disebabkan
karena masih banyak pihak yang belum memahami nilai dari berbagai manfaat SDH
secara komperehensif. Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut perlu dilakukan
penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan SDH ini. Penilaian sendiri
merupakan upaya untuk menentukan nilai atau manfaat dari suatu barang atau jasa
untuk kepentingan manusia (Nurfatriani, 2006).
Sumberdaya alam merupakan aset penting suatu negara
dalam melaksanakan pembangunan, khususnya pembangunan di sektor ekonomi. Selain
dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, sumberdaya alam juga
memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kesejahteraan suatu bangsa (wealth of nation).
Oleh karena itu, pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam secara optimal,
lestari dan berwawasan lingkungan sudah semestinya dilakukan. Keberadaan
sumberdaya alam hayati di tengah-tengah masyarakat merupakan suatu fenomena
yang kompleks. Pemanfaatannya sangat diperlukan dalam upaya pemenuhan kebutuhan
hidup ataupun untuk proses produksi guna menghasilkan output dalam bentuk dan
manfaat yang lain. Namun, pemanfaatan tersebut terkadang tidak memperhatikan
batas-batas kemampuan atau daya dukung lingkungan dalam proses regenerasi untuk
keberlanjutan siklus hidupnya baik secara biologis, fisik, ekologis maupun
secara ekonomis (Hiariey, 2009).
Manfaat hutan tidak diragukan lagi bagi perekonomian
Indonesia namun menurut data statistik dari Departemen Kehutanan (1994),
ternyata dari 27,2 juta jiwa yang berada di dalam dan sekitar kawasan hutan
terdapat 34% masyarakat yang tergolong miskin yang hidupnya tergantung pada
sumberdaya hutan. Salah satu faktor penyebab kemiskinan tersebut, diantaranya
dikarenakan peningkatan jumlah penduduk serta penyebarannya yang tidak merata.
Hal ini mempunyai dampak terhadap penyediaan kebutuhan pangan dan papan untuk
dapat menjamin suatu kehidupan yang layak. Persoalan penduduk bisa berdampak
setempat (wilayah atau negara tertentu), tetapi juga bisa berdampak global.
Penduduk yang besar
pada suatu negara tertentu membawa persoalan yang serius bagi dunia terutama
masalah penyediaan bahan makanan dan pendistribusiannya dari sumberdaya
lingkungan (Rajati dkk, 2006).
1.2
Rumusan
Masalah
1.
Apa saja jenis-jenis sumer daya alam?
2.
Apa ciri-ciri sumber daya hutan?
3.
Apa saja identifikasi dan potensi ekonomi sumberdaya
hutan?
1.3
Tujuan
1.
Untuk mengetahui jenis-jenis sumber daya alam.
2.
Untuk mengetahui ciri-ciri
sumber daya hutan.
3.
Untuk mengetahui identifikasi dan potensi ekonomi
sumberdaya hutan.
BAB
II
ISI
2.1
Jenis-jenis
sumber daya alam
Hutan merupakan sumberdaya yang
sangat penting bagi Negara Indonesia.
Diperkirakan hampir lebih dari setengah penduduk Indonesia menggantungkan hidup
terhadap hutan. Maka dari itu, paradigma pengelolaan hutan yang menekankan prinsip
sustainable harus dipakai demi menjaga kelestarian fungsi hutan. Fungsi hutan
itu sendiri tidak hanya fungsi ekologis, tetapi juga meliputi fungsi ekonomi,
sosial dan budaya.
Sumber daya alam adalah unsur
lingkungan yang terdiri atas sumberdaya alam hayati dan sumberdaya alam non
hayati yang merupakan salah satu aset yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan hidup manusia. Sumber daya alam disediakan oleh alam semesta yang
dapat dipergunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bentuknya
bisa berwujud barang, benda, fenomena, suasana, gas/udara, air dan lain
sebainya. Alam semesta diciptakan Tuhan yang Maha Esa dengan segala macam
isinya untuk kelangsungan dan kesejahteraan umat manusia.
2.1.1
Sumber daya alam yang dapat diperbarui
Sumber daya alam yang
dapat diperbarui (renewable resources) adalah sumber daya alam yang
dapat pulih keberadaannya atau dapat dikembalikan persediaannya dalam waktu
yang cepat. Walaupun
sumber daya alam dipergunakan atau dimanfaat-kan oleh manusia, tetapi manusia
dapat mengusahakan kembali sumber daya tersebut, sehingga tidak khawatir habis,
karena manusia bisa memperbarui sumber daya alam tersebut. Menurut Undang-Undang
RI No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, sumber daya alam
dibagi ke dalam sumber daya alam hayati misalnya biotika baik hewan maupun
tumbuhan, sedangkan sumber daya alam non hayati seperti tanah, udara, air, dan
lain-lain.
Sumber Daya Alam Hayati
Sumber daya alam
hayati ialah sumber daya alam yang berbentuk makhluk hidup, yaitu hewan dan
tumbuh-tumbuhan”. Ciri utama dari sumber daya alam hayati adalah tumbuh,
bergerak, berkembang biak, bernafas, dan membutuhkan makanan. Indonesia
merupakan salah satu negara di dunia yang permukaan tanahnya kaya akan sumber
daya alam hayati (hewan dan tumbuhan) terbesar, sehingga disebut dengan
paru-paru dunia. Ma-cam-macam sumber daya alam hayati adalah sebagai berikut :
a.
Hewan
Hewan termasuk salah satu
dari sumber daya alam hayati dan termasuk dalam kategori dapat diperbarui.
Hewan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hewan liar dan hewan peliharaan.
Namun demikian, kadang ada orang yang me-ngelompokkan hewan ke dalam beberapa
kelompok sesuai dengan kepenting-annya, seperti hewan buas dan hewan jinak dan
sebagainya.
Hewan liar adalah hewan yang hidup secara liar di alam semesta secara
bebas. mereka tumbuh, bergerak, mencari makan dan berkembang biak sendiri tanpa
bantuan manusia secara langsung. Sebaliknya hewan peliharaan adalah hewan yang
hidup secara dalam lingkungan tertentu, tidak bebas, mereka tumbuh, bergerak,
mencari makan dan berkembang biak dengan bantuan manusia secara langsung maupun
tidak langsung.
Hewan peliharaan dipelihara oleh manusia. Manusia memelihara hewan untuk
berbagai macam kepentingan, mulai dari hobi atau kesenangan, mencari keuntungan
(sebagai salah bentuk kegiatan ekonomi), dan melindungi agar tidak punah. Hewan
peliharaan yang dipelihara manusia sebagai kegiatan ekonomi dengan tujuan untuk
mendapatkan keuntungan dengan cara diperjual belikan dikenal dengan hewan
ternak.
b. Tumbuhan
Tumbuhan termasuk salah satu dari sumber daya alam hayati dan termasuk
dalam kategori dapat diperbarui. Tumbuhan memiliki manfaat yang sangat besar
bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia. Tumbuhan merupakan sumber ma-kanan
manusia, sehingga dapat dikatakan karena tumbuhanlah manusia bisa hidup dan
berkembang biak. Oleh karena itu, tidaklah salah kalau dikatakan bahwa tan-pa
tumbuhan manusia tidak dapat hidup. Sumber daya alam hayati tumbuhan dapat
dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu hutan, lahan pertanian dan
perkebunan.
Sumber Daya
Alam Hutan
Hutan adalah sebuah areal atau
wilayah yang luas atau sangat luas, biasa-nya terletak di lereng sebuah
pegunungan (dataran tinggi) yang mempunyai ciri khas banyak ditumbuhi berbagai macam
pohon atau salah satu jenis pohon terten-tu yang sangat padat. Sumber daya
hutan menghasilkan banyak barang untuk kepentingan kesejahteraan manusia baik
secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung keberadaan hutan
membantu manusia untuk mendapatkan udara sejuk, bersih, segar dan sehat serta
berguna sebagai sumber air, peresapan air bersih dan sehat. Bilamana tidak ada
hutan maka kedua hal tersebut tidak mungkin dengan mudah kita dapatkan.
Hutan juga memberi
manfaat bagi manusia dalam menyediakan berbagai macam tumbuhan yang bisa diolah
sedemikian rupa menjadi berbagai macam obat-obatan untuk kesehatan manusia.
Sebagaimana diketahui pada masyarakat yang tinggal di pinggir hutan, pola
pengobatan banyak tergantung pada tanam-tanaman yang tumbuh di hutan. Selain
menghasilkan berbagai macam kayu, tanaman obatobatan, hutan juga menghasilkan
berbagai macam bunga yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Pada saat ini banyak
ditemukan berbagai macam spesies bunga yang berasal dari hutan di daerah Kalimantan,
Sulawesi dan Papua.
2.2
Ciri-ciri
sumber daya hutan
Semakin langkanya sumber daya
hutan dengan sifat-sifatnya yang khas, telah mendorong lahirnya ekonomi sumber
daya hutan sebagai objek pengetahuan sumber daya disiplin ilmu-ilmu kehutanan
yang para rimbawan perlu mempelajarinya. Sebagai sumber daya ekonomi, pada
dasarnya sumber daya hutan bersifat lentur (versatile) berarti berpotensi
sangat luwes untuk dapat dimanfaatkan dalam banyak ragam komoditi akhir, bahkan
komoditi-komoditi sumber daya hutan itu dapat dimanfaatkan berulang kali.
Ciri sumberdaya hutan yang
penting adalah peranannya sebagai sistem penunjang kehidupan. Dalam hal ini
hutan tropika berperan sebagai paru-paru dunia yang merupakan barang publik
(international public goods) dan sumber keragaman hayati. Peran tersebut selain
menyebabkan tingginya concern, juga telah menyebabkan adanya tekanan dunia
internasional terhadap kegiatan pembangunan kehutanan dan perkebunan. Komitmen
internasional yang disepakati pemerintah sebagaimana tertuang dalam nota
kesepahaman dengan IMF serta Consultative Group on Indonesia (CGI) akan
merupakan bagian penting dari pembangunan kehutanan dan perkebunan di masa
mendatang.
2.3
Identifikasi
pohon yang memiliki potensi ekonomi sumberdaya hutan
Gaharu (Aquilaria sp)
Gaharu merupakan produk Hasil Hutan Non Kayu (HHBK)
yang memiliki nilai ekonomi sangat
tinggi dibanding
produk Kehutanan lainnya, sehingga sangat potensial untuk
dikembangkan. Pengembangan Gaharu ini
selain untuk menjaga kesinambungan produksi, sekaligus
juga melindungi keragaman pohon penghasil gaharu yang ada di
Indonesia.
Gaharu adalah kayu wangi yang sudah diresapi resin
yang dijumpai pada pohon Aquilaria yang sangat berharga terutama karena
wangi, dapat digunakan untuk pengasapan, dan untuk obat. Di Indonesia,
persediaan pohon ini diperkirakan mencapai 1,87 pohon per ha di Sumatera, 3,37
pohon per hektar di Kalimantan, dan 4,33 pohon per ha di Papua. Keberadaan
pohon itu sendiri tidak menjamin keberadaan resin. Para ilmuwan memperkirakan
hanya 10% dari pohon Aquilaria di dalam hutan yang mengandung gaharu . Indonesia adalah eksportir
utama produk gaharu di dunia. Dengan permintaan pasar yang tinggi, banyak
kolektor yang tidak trampil tertarik untuk mengeksploitasi gaharu dan, akibatnya, sebagian besar
populasi gaharu rusak terlepas bahwa kayu ini tercantum dalam CITES Appendix
II. Baru-baru ini, harga untuk gaharu dengan
mutu terbaik dinyatakan sebesar kurang-lebih 400/kg dan sebagian besar bahan
ini diselundupkan dan diperdagangkan secara ilegal keluar dari Indonesia.
Identifikasi
(Morfologi) Pohon Gaharu
Beberapa sifat biofisiologis tumbuh pohon penghasil
gaharu yang penting untuk diperhatikan adalah faktor sifat fisiologis
pertumbuhan, sebagian besar pohon pada fase pertumbuhan awal (vegetatif)
memiliki sifat tidak tahan akan intensitas cahaya langsung (semitoleran)
hingga berumur 2 - 3 tahun. Faktor lain sifat fenologis pembungaan dimana
setiap jenis, selain dipengaruhi oleh kondisi iklim dan musim setempat juga akan
dipengaruhi oleh kondisi lahan tempat tumbuh. Sifat fenologis buah/benih yang
rekalsitran, badan buah pecah dan tidak jatuh bersamaan dengan benih. Sifat
fisiologis benih memiliki masa istirahat (dormansi) yang sangat rendah,
benih-benih yang jatuh di bawah tajuk pohon induk pada kondisi optimal setelah
3 – 4 bulan akan tumbuh dan menghasilkan permudaan alam tingkat semai yang
tinggi dan setelah 6 – 8 bulan akan terjadi persaingan, sehingga populasi
anakan tingkat semai akan menurun hingga 60 – 70 %. Aspek pertumbuhan permudaan
alam tingkat semai penting diketahui sebagai dasar dalam penyediaan bibit
tanaman dengan cara memanfaatkan cabutan permudaan alam.
Proses Pembentukan
Gaharu dihasilkan tanaman sebagai respon dari masuknya mikroba yang masuk
ke dalam jaringan yang terluka. Luka pada tanaman berkayu dapat disebabkan
secara alami karena adanya cabang dahan yang patah atau kulit terkelupas,
maupun secara sengaja dengan pengeboran dan penggergajian. Masuknya mikroba ke
dalam jaringan tanamandianggap sebagai benda asing sehingga sel tanaman akan
menghasilkan suatu senyawa fitoaleksin yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap penyakit atau patogen. Senyawa fitoaleksin
tersebut dapat berupa resin berwarna coklat dan beraroma harum, serta menumpuk
pada pembuluh xilem dan floem untuk mencegah meluasnya luka ke jaringan lain.
Namun, apabila mikroba yang menginfeksi tanaman dapat mengalahkan sistem
pertahanan tanaman maka gaharu tidak terbentuk dan bagian tanaman yang luka
dapat membusuk. Ciri-ciri bagian tanaman yang telah menghasilkan gaharu adalah
kulit batang menjadi lunak, tajuk tanaman menguning dan rontok, serta terjadi
pembengkakan, pelekukan, atau penebalan pada batang dan cabang tanaman. Senyawa
gaharu dapat menghasilkan aroma yang harum karena mengandung senyawa guia
dienal, selina-dienone, dan selina dienol. Untuk kepentingan komersil,
masyarakat mengebor batang tanaman penghasil gaharu dan memasukkan inokulum
cendawan ke dalamnya. Setiap spesies pohon penghasil gaharu memiliki mikroba
spesifik untuk menginduksi penghasilan gaharu dalam jumlah yang besar. Beberapa
contoh cendawan yang dapat digunakan sebagai inokulum adalah Acremonium sp., Cylindrocarpon sp., Fusarium
nivale, Fusarium solani, Fusarium fusariodes, Fusarium roseum, Fusarium
lateritium dan Chepalosporium sp.
Nilai Ekonomi
Gaharu banyak diperdagangan dengan harga jual yang
sangat tinggi terutama untuk gaharu dari tanaman famili Themeleaceae dengan
jenis Aquilaria spp. yang dalam dunia perdangangan disebut sebagai gaharu
beringin. Untuk jenis gaharu dengan nilai jual yang relatif rendah, biasanya
disebut sebagai gaharu buaya. Selain ditentukan dari jenis tanaman
penghasilnya, kualitas gaharu juga ditentukan oleh banyaknya kandungan resin
dalam jaringan kayunya. Semakin tinggi kandungan resin di dalamnya maka harga
gaharu tersebut akan semakin mahal dan begitu pula sebaliknya. Secara umum
perdagangan gaharu digolongkan menjadi tiga kelas besar, yaitu gubal,
kemedangan, dan abu. Gubal merupakan kayu berwarna hitam atau hitam kecoklatan
dan diperoleh dari bagian pohon penghasil gaharu yang memiliki kandungan damar
wangi beraroma kuat. Kemedangan adalah kayu gaharu dengan kandungan damar wangi
dan aroma yang lemah serta memiliki penampakan fisik berwarna kecoklatan sampai
abu-abu, memiliki serat kasar, dan kayu lunak. Kelas terakhir adalah abu gaharu
yang merupakan serbuk kayu hasil pengerokan atau sisa penghancuran kayu gaharu.
Pengolahan Minyak Gaharu
Sebelum dijadikan bahan baku parfum, gaharu harus
diolah terlebih dahulu untuk mendapatkan minyak dan senyawa aromatik yang
terkandung di dalamnya. Sebagian kayu gaharu dapat dijual ke ahli penyulingan
minyak yang biasanya menggunakan teknik distilasi uap atau air untuk
mengekstraksi minyak dari kayu tersebut. Untuk mendapatkan
minyak gaharu dengan distilasi
air, kayu gaharu direndam dalam air kemudian dipindahkan ke dalam suatu tempat
untuk menguapkan air hingga minyak yang terkandung keluar ke permukaan wadah
dan senyawa aromatik yang menguap dapat dikumpulkan secara terpisah. Teknik
distilasi uap menggunakan potongan gaharu yang dimasukkan ke dalam peralatan
distilasi uap. Tenaga uap yang menyebabkan sel tanaman dapat terbuka dan minyak
dan senyawa aromatik untuk parfum dapat keluar. Uap air akan membawa senyawa
aromatik tersebut kemudian melalui tempat pendinginan yang membuatnya
terkondensasi kembali menjadi cairan. Cairan yang berisi campuran air dan
minyak akan dipisahkan hingga terbentuk lapisan minyak di bagian atas dan air di
bawah. Salah satu metode digunakan saat ini adalah ekstraksi dengan
[[superkritikal CO2]], yaitu CO2 cair yang terbentuk karena tekanan tinggi. CO2
cair berfungsi sebagai pelarut aromatik yang digunakan untuk ekstraksi minyak
gaharu. Metode ini menguntungkan karena tidak terdapat residu yang tersisa, CO2
dapat dengan mudah diuapkan saat berbentuk gas pada suhu dan tekanan normal.
BAB III
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
1.
Ciri sumberdaya hutan yang penting adalah peranannya sebagai sistem
penunjang kehidupan. Dalam hal ini hutan tropika berperan sebagai paru-paru
dunia yang merupakan barang publik (international public goods) dan sumber
keragaman hayati. Peran tersebut selain menyebabkan tingginya concern, juga telah
menyebabkan adanya tekanan dunia internasional terhadap kegiatan pembangunan
kehutanan dan perkebunan.
2.
Gaharu
adalah kayu wangi yang sudah diresapi resin yang dijumpai pada pohon Aquilaria
yang sangat berharga terutama karena wangi, dapat digunakan untuk
pengasapan, dan untuk obat. Di Indonesia, persediaan pohon ini diperkirakan
mencapai 1,87 pohon per ha di Sumatera, 3,37 pohon per hektar di Kalimantan,
dan 4,33 pohon per ha di Papua. Keberadaan pohon itu sendiri tidak menjamin
keberadaan resin.
3.
Gaharu
banyak diperdagangan dengan harga jual yang sangat tinggi terutama untuk gaharu
dari tanaman famili Themeleaceae dengan jenis Aquilaria spp. yang dalam dunia
perdangangan disebut sebagai gaharu beringin. Untuk jenis gaharu dengan nilai
jual yang relatif rendah, biasanya disebut sebagai gaharu buaya. Selain
ditentukan dari jenis tanaman penghasilnya, kualitas gaharu juga ditentukan
oleh banyaknya kandungan resin dalam jaringan kayunya.
4.
Sebagian
kayu gaharu dapat dijual ke ahli penyulingan minyak yang biasanya menggunakan
teknik distilasi uap atau air untuk mengekstraksi minyak dari kayu tersebut.
Untuk mendapatkan minyak gaharu dengan distilasi air, kayu gaharu direndam
dalam air kemudian dipindahkan ke dalam suatu tempat untuk menguapkan air
hingga minyak yang terkandung keluar ke permukaan wadah dan senyawa aromatik
yang menguap dapat dikumpulkan secara terpisah.
DAFTAR PUSTAKA
Gun, et.al., 2004. Eaglewood in Papua New
Guinea. Tropical Rain Forest Project.
Working paper No. 51. Vietnam. Dalam Sofyan, A.dkk. 2010. Pengembangan Dan Peningkatan
Produktivitas Pohon Penghasil Gaharu
Sebagai Bahan Obat
Di Sumatera. Kementerian
Kehutanan Balai Penelitian
Kehutanan Palembang. Palembang.
Hiariey, L. S. 2009. Identifikasi nilai ekonomi ekosistem
hutan mangrove di Desa Tawiri, Ambon. Jurnal Organisasi dan
Manajemen. 5(1): 23-34.
Iskandar.
2009. Pengembangan Hhbk Jenis Gaharu (Aquilaria
Malaccensis ) Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dinas Kehutanan Bangka
Belitung.
Nurfatriani, F. 2006. Konsep Nilai Ekonomi Total dan Metode
Penilaian Sumberdaya Hutan. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi
Kehutanan. 3(1).
Rajati, T., Kusmana, C., Darusman, D., dan Saefuddin, A.
2006. Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Kehutanan dalam Rangka Peningkatan
Kualitas Lingkungan dan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Sekitar
Hutan: Studi Kasus Di Kabupaten Sumedang (The Optimization of Forest Land
Utilization to Improve Environment Q. Jurnal Manajemen Hutan
Tropika. 12(1).
Sumadiwangsa dan Zulnely, 1999.
Pengembangan Gaharu di Sumatera, Makalah Workshop Pengembangan Teknologi
Produksi Gaharu Berbasis pada Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Hutan. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alarr:- ITTO PO 425/06 Rev .1
(1). Bogar, 29 April 2009.
Wirahadikusumah. 2003. Hasil Hutan Non
Kayu: Gambaran Masa Lampau Untu Prospek Masa Depan. Jakartas : Kongres Kehutanan Indonesia.

